Sabtu, 12 November 2016

Baper di Tahun Baru Islam



Baper di Tahun Baru Islam
Aku menjauh dari keramaian Aula, berjalan mundur beberapa langkah dengan wajah sedu, menengadah menatap langit gelap seraya mengatupkan kedua tangan membentuk corong disekitar mulut, aku berteriak sekeras-kerasnya” aaaaaaaaaaaaaaah, tidak ada yang spesial dalam diriku”.
 Aku  duduk di bawah rumah tua cukup jauh dengan keramaian, mata memerah karena gisikan tangan dan air mata berlinang, selintas teringat status facebook teman karibku, “siaplah kamu untuk sakit di tengah-tengah orang pintar”. Ternyata kini sedang kurasa.
Tring” terdengar pesan singkat masuk ponselku, namun aku hiraukan. Aku terus hanyut dalam lamunan mengingat kejadian tadi di keramaian madrasah dan kejadian pada saat kompetisi. Rasanya aku orang yang paling bodoh dan tidak berguna di dunia.
“kita harus ikut kompetisi ini, kita harus bersaing dengan mereka.” Sahut temanku di kerumunan.
“Apa saja yang dikompetisikan Bil?” tanyaku.
“ Aku mau ikut kompetisi nyanyi solo deh.” Sahut Nayla teman ku yang satu lagi.
“ Iya harus, kamu kan pintar nyanyi Nay.” Lanjut Nabilah menyetujui.
            Hatiku kuncup, pertanyaan yang ku lontarkan tak ada jawaban. Aku terbawa arus perasaan (baper), ya bawa perasaan sedih, sedu, sedan. Bagaimana tidak, ku kira orang lain pun akan seperti ku kala itu. Dada ku naik turun, menahan nafas yang tersendat dan menahan amarah bercampur tangisan hati. “ astagfirullah, kuatkan hati, lapangkan hati, terima kenyataan, akui kekurangan”  Kata ku pelan sambil mengelus dada menenangkan diri.
”Kamu ikut apa Nabil?”tanyaku.
“Ikut MTQ Win.” Jawaban singkatnya membuatku bingung mau tanya apalagi. Aku harap mereka mengajakku berpartisipasi dalam kompetisi itu. Namun harapan itu kandas setelah semua orang mengakhiri percakapan tadi. “Dasar silemot, bisanya menggantungkan diri pada orang lain saja.”gerutuku pada diri sendiri.
            Keesokan hari tempat itu ramai sekali, hiasan dekorasi memperindah lokasi kompetisi. Sebagian orang-orang bergegas dan berlalu-lalang, masing-masing sibuk melakukan daftar ulang ke kordinator kompetisi masing-masing. Aku duduk berdiam diri di tengah-tengah kerumunan teman-teman yang bercengkrama menceritakan pengalamannya saat mereka tampil.
“ Aku tidak yakin menang Nay.” Keluh Nabil.
“ Loh ko ngeluh gitu Bil, padahal tadi MTQ kamu bagus tuh.” tuturku.
“ Gak usah berharap berlebihan Bil, biar gak sakit hati nantinya, kalau aku sih santai saja, menang gak menang itu udah ada yang ngatur, kita hanya berusaha saja.” Lanjut Naylah dan aku mengiyakan.
            Adzan maghrib berkumandang, semakin dekat saja dengan masanya pengumuman pemenang kompetisi. Aku tertegun, menghentikan langkah kaki menuju mushola. Mengingat kedua temanku yang sempat mengeluh dengan penampilannya.
“Wini, tunggu aku.” Naylah memanggilku.
“ Ayo kita shalat maghrib dulu, habis magrib kan pengumuman pemenang, kali aja kamu jadi salah satu pemenangnya. Nabil mana Nay?” tanyaku.
“Dikamarnya gak ada, udah di Mushola kali.”jawabnya.
            Nampak terlihat di pojok mushola, Nabilah sudah rapi dengan mukenanya, hendak berdiri melaksanakan shalat maghrib. Aku, dan Naylah shalat maghrib di sampingnya. Tidak lama setelah selesai shalat, bunyi speaker dari Aula sampai di telinga, mengumumkan supaya semua santri beserta peserta kompetisi menyiapkan diri untuk kembali ke Aula.
“ Inilah masa-masa yang kita tunggu, masa pengumuman pemenang kompetisi.” Itulah kata pembuka kedua MC membuat Aula ramai kembali dengan tepukan tangan yang serempak.
 “ Aku yakin kalian adalah salah satu pemenangnya, aku dukung kalian.” kataku mencairkan suasana.
“ Aku pasrah, menang syukur, gak menangpun gapapa.” Nayla merespon ucapanku.
“ inilah juara ke 2 lomba MTQ diraih oleh peserta bernama Nabilah khairunnisa, kepadanya dipersilahkan naik ke panggung untuk menerima penghargaan.” Sambut kedua MC acara itu.
Nabilah kaget, diam tanpa kata, prasangka akan nihilnya tidak terjadi, dia sempat tidak percaya dengan kemenangannya. “hah aku juara 2?” sungguh keajaiban, padahal tadi penampilanku ancur banget, panjang pendek tajwidnya ada yang aku tinggalkan.” Sahut Nabilah.
“ Juara favorit lomba nyanyi solo jatuh kepada peserta bernama Naylah Nurhamdi, kepada saudari Naylah Nurhamdi dipersilahkan naik ke panggung untuk menerima penghargaan.” Lagi-lagi MC mengumumkan kegembiraan itu.
“Alhamdulilah kamu menang juga Nay.” Kataku seraya menguncupkan kedua tangan kemudian mengusap wajah tanda syukur.
“ Apa Win? aku menang? Ko bisa? Padahal aku sudah siap-siap menerima kekalahan, tapi alhamdulilah kalau menang.” Ucap Naylah.
Terlihat bahagia dua wanita sebaya di atas panggung, wajahnya nampak berseri-seri, sangat berbeda dengan wajah sebelum mendengar kebahagiaan itu. “Seandainya aku berada di atas panggung itu dan diberi penghargaan nampaknya aku senang melebihi rasa senang ini.” Kataku dalam hati. ”Ah rasanya tidak mungkin terjadi pada diriku yang hidupnya terus-terusan bergantung pada orang lain.” Lagi-lagi aku tidak percaya pada diri sendiri.
“ Bil, kita menang, aku ganyangka banget bisa menang.” Kata Naylah mengawali pembicaraan.
“Tuh kan, aku bilang kalian pasti jadi salah satu pemenangnya.”kataku melanjutkan.
“ Iya aku juga, padahal penampilan aku tidak maksimal.” Sahut Nabilah
“ Coba buka kadonya Bil, isinnya apa Bil?” kata Naylah sambil membuka bingkisan miliknya yang diberikan tadi di panggung.
“ Isinya amplop, buku diary dan sertifikat Nay. Alhamdulilah” jawab Naylah.
“Yuk kita foto-foto Nay.” Ajak Nabil.
Seperti biasa aku duduk ditengah-tengah mereka berdua, menjadi pendengar setia perbincangan kala itu. Hati ku terasa ditusuk, sangat perih sekali mendengar ujung perbincangannya, keberadaanku serasa tidak dianggap.
“ aku pulang duluan ya Bil, Nay”. Kataku seraya mengusap mata yang berkaca-kaca karena sudah tidak kuat menahan tampungan air mata.
“ oh iya Win, hati-hati di jalan.” Jawab Naylah.
Langkah kaki terus menyusuri lorong sempit yang semakin jauh semakin sempit jika dilihat dari pintu Aula tempat keramaian. Aku sudah tidak kuat lagi, rasanya ingin pergi sejauh-jauhnya dan teriak sekencang-kencangnya. Melihat keadaan ku yang seperti ini ku kira semua  Orang menyebut aku baper, bagaimana tidak baper, aku kira semua orang pasti baper jika hidupnya sepertiku yang selalu sendiri, disisihkan dan dipandang sebelah mata.
Hari semakin malam, aku tertegun merasakan tidak sanggup berdesakan dengan kerumunan orang-orang penuh hasrat menang, ya hasrat yang baik namun susah untuk diikuti.  Aku tereseret dikerumunan orang-orang pintar dan rasanya sangat sakit. Aku membenarkan status teman facebookku kala itu.
Aku hanyut dalam lamunan itu, semakin lama mengingat masa lalu hati semakin sakit, “tring” ponselku berbunyi tanda pesan di grup BBM masuk, lagi dan lagi sampai ketiga kali Kini ku buka pesan singkat yang masuk ponselku. Ternyata pesan singkat dari guru seniku, sekaligus motivatorku.
“ Nak, kenalilah dirimu. Tubuh memang asalnya dari sini, dari tanah entah bagian mana dari bumi ini, yang kelak engkau akan kuburkan di situ. Namun ruhmu bukan asli dari sini, ia adalah pengembara yang datang dari alam tanah, yang kelak akan kembali kesitu. Jangan cintai alam pengembaramu, sehingga menyulitkanmu mengenali jalan pulang.”
Bergetar tubuhku, lemas jiwa ku mengingat egoku yang keterlaluan, ingin menang, dan dikenal banyak orang. Mungkin kala itu aku sedang diselimuti nafsu yang menggebu-gebu yang menjadikan diri layaknya orang gila, berhasrat tinggi, dan timbul rasa dengki, benci pada diri sendiri dan orang lain serta putus asa. Keadaan gila itu hilang begitu saja setelah menelusuri nasihat secara runtut dari guruku.
Tubuhku terlentang di kasur yang biasa kujadikan tempat dikala lelah menghampiri. Aku lelah dengan hasratku yang salah, rasanya ingin menepi dari arus kesalahan itu.
“Winniii.....”  temanku memanggil.
“ Minggu depan ada lomba di acara syiar muharam, kamu ikut lomba menulis cerpen ya, aku dukung kamu deh.”
“ Ko tiba-tiba saja kamu nyuruh aku ikut lomba?”
“ Tadi aku sempat baca buku harian kamu, dan aku baca cerita kamu yang judulnya baper di tahun baru islam, dalam cerpen itu kamu mampu memainkan emosiku Win, aku yakin orang lain pun akan sepertiku saat baca cerpen kamu. Aku yakin cerpen mu yang ini akan menang jika diikut lombakan.” Ujar temanku menjelaskan.
Esok harinya aku memberanikan diri mengikuti acara lomba itu, dan pada akhirnya keberuntungan menghampiriku. Sungguh luar biasa tahun baru islam ini, menjadikanku menjumpai jati diri dan kesadaran diri yang hakiki.


25 komentar:

  1. Haha menginspirasi lah
    Jangan lupa mampir ke http://gaim02.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Makasih kaka infonya, i like it

    BalasHapus
  3. terimakasih kaka informasinya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  4. Subhanallah bermanfaat buat hdp

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Sangat bermanfaat kakak.. Terus lanjutkan

    BalasHapus
  7. Sangat bermanfaat teteh terimakasih

    BalasHapus