Baper di Tahun Baru
Islam
Aku
menjauh dari keramaian Aula, berjalan mundur beberapa langkah dengan wajah
sedu, menengadah menatap langit gelap seraya mengatupkan kedua tangan membentuk
corong disekitar mulut, aku berteriak sekeras-kerasnya” aaaaaaaaaaaaaaah, tidak
ada yang spesial dalam diriku”.
Aku duduk di bawah rumah tua cukup jauh dengan
keramaian, mata memerah karena gisikan tangan dan air mata berlinang, selintas
teringat status facebook teman karibku, “siaplah
kamu untuk sakit di tengah-tengah orang pintar”. Ternyata kini sedang
kurasa.
“Tring”
terdengar pesan singkat masuk ponselku, namun aku hiraukan. Aku terus hanyut
dalam lamunan mengingat kejadian tadi di keramaian madrasah dan kejadian pada saat
kompetisi. Rasanya aku orang yang paling bodoh dan tidak berguna di dunia.
“kita
harus ikut kompetisi ini, kita harus bersaing dengan mereka.” Sahut temanku di
kerumunan.
“Apa
saja yang dikompetisikan Bil?” tanyaku.
“
Aku mau ikut kompetisi nyanyi solo deh.” Sahut Nayla teman ku yang satu lagi.
“
Iya harus, kamu kan pintar nyanyi Nay.” Lanjut Nabilah menyetujui.
Hatiku kuncup, pertanyaan yang ku
lontarkan tak ada jawaban. Aku terbawa arus perasaan
(baper), ya bawa perasaan sedih, sedu, sedan.
Bagaimana tidak, ku kira orang lain pun akan seperti ku kala itu. Dada ku naik
turun, menahan nafas yang tersendat dan menahan amarah bercampur tangisan hati.
“ astagfirullah, kuatkan hati, lapangkan hati, terima kenyataan, akui
kekurangan” Kata ku pelan sambil
mengelus dada menenangkan diri.
”Kamu
ikut apa Nabil?”tanyaku.
“Ikut
MTQ Win.” Jawaban singkatnya membuatku bingung mau tanya apalagi. Aku harap
mereka mengajakku berpartisipasi dalam kompetisi itu. Namun harapan itu kandas
setelah semua orang mengakhiri percakapan tadi. “Dasar silemot, bisanya
menggantungkan diri pada orang lain saja.”gerutuku pada diri sendiri.
Keesokan hari tempat itu ramai
sekali, hiasan dekorasi memperindah lokasi kompetisi. Sebagian orang-orang bergegas
dan berlalu-lalang, masing-masing sibuk melakukan daftar ulang ke kordinator
kompetisi masing-masing. Aku duduk berdiam diri di tengah-tengah kerumunan
teman-teman yang bercengkrama menceritakan pengalamannya saat mereka tampil.
“
Aku tidak yakin menang Nay.” Keluh Nabil.
“
Loh ko ngeluh gitu Bil, padahal tadi MTQ kamu bagus tuh.” tuturku.
“
Gak usah berharap berlebihan Bil, biar gak sakit hati nantinya, kalau aku sih
santai saja, menang gak menang itu udah ada yang ngatur, kita hanya berusaha
saja.” Lanjut Naylah dan aku mengiyakan.
Adzan maghrib berkumandang, semakin
dekat saja dengan masanya pengumuman pemenang kompetisi. Aku tertegun,
menghentikan langkah kaki menuju mushola. Mengingat kedua temanku yang sempat
mengeluh dengan penampilannya.
“Wini,
tunggu aku.” Naylah memanggilku.
“
Ayo kita shalat maghrib dulu, habis magrib kan pengumuman pemenang, kali aja
kamu jadi salah satu pemenangnya. Nabil mana Nay?” tanyaku.
“Dikamarnya
gak ada, udah di Mushola kali.”jawabnya.
Nampak terlihat di pojok mushola,
Nabilah sudah rapi dengan mukenanya, hendak berdiri melaksanakan shalat
maghrib. Aku, dan Naylah shalat maghrib di sampingnya. Tidak lama setelah
selesai shalat, bunyi speaker dari Aula sampai di telinga, mengumumkan supaya
semua santri beserta peserta kompetisi menyiapkan diri untuk kembali ke Aula.
“
Inilah masa-masa yang kita tunggu, masa pengumuman pemenang kompetisi.” Itulah
kata pembuka kedua MC membuat Aula ramai kembali dengan tepukan tangan yang
serempak.
“ Aku yakin kalian adalah salah satu pemenangnya,
aku dukung kalian.” kataku mencairkan suasana.
“
Aku pasrah, menang syukur, gak menangpun gapapa.” Nayla merespon ucapanku.
“
inilah juara ke 2 lomba MTQ diraih oleh peserta bernama Nabilah khairunnisa,
kepadanya dipersilahkan naik ke panggung untuk menerima penghargaan.” Sambut
kedua MC acara itu.
Nabilah
kaget, diam tanpa kata, prasangka akan nihilnya tidak terjadi, dia sempat tidak
percaya dengan kemenangannya. “hah aku juara 2?” sungguh keajaiban, padahal
tadi penampilanku ancur banget, panjang pendek tajwidnya ada yang aku
tinggalkan.” Sahut Nabilah.
“
Juara favorit lomba nyanyi solo jatuh kepada peserta bernama Naylah Nurhamdi,
kepada saudari Naylah Nurhamdi dipersilahkan naik ke panggung untuk menerima
penghargaan.” Lagi-lagi MC mengumumkan kegembiraan itu.
“Alhamdulilah
kamu menang juga Nay.” Kataku seraya menguncupkan kedua tangan kemudian
mengusap wajah tanda syukur.
“
Apa Win? aku menang? Ko bisa? Padahal aku sudah siap-siap menerima kekalahan,
tapi alhamdulilah kalau menang.” Ucap Naylah.
Terlihat
bahagia dua wanita sebaya di atas panggung, wajahnya nampak berseri-seri, sangat
berbeda dengan wajah sebelum mendengar kebahagiaan itu. “Seandainya aku berada
di atas panggung itu dan diberi penghargaan nampaknya aku senang melebihi rasa
senang ini.” Kataku dalam hati. ”Ah rasanya tidak mungkin terjadi pada diriku
yang hidupnya terus-terusan bergantung pada orang lain.” Lagi-lagi aku tidak
percaya pada diri sendiri.
“
Bil, kita menang, aku ganyangka banget bisa menang.” Kata Naylah mengawali
pembicaraan.
“Tuh
kan, aku bilang kalian pasti jadi salah satu pemenangnya.”kataku melanjutkan.
“
Iya aku juga, padahal penampilan aku tidak maksimal.” Sahut Nabilah
“
Coba buka kadonya Bil, isinnya apa Bil?” kata Naylah sambil membuka bingkisan
miliknya yang diberikan tadi di panggung.
“
Isinya amplop, buku diary dan sertifikat Nay. Alhamdulilah” jawab Naylah.
“Yuk
kita foto-foto Nay.” Ajak Nabil.
Seperti
biasa aku duduk ditengah-tengah mereka berdua, menjadi pendengar setia
perbincangan kala itu. Hati ku terasa ditusuk, sangat perih sekali mendengar
ujung perbincangannya, keberadaanku serasa tidak dianggap.
“
aku pulang duluan ya Bil, Nay”. Kataku seraya mengusap mata yang berkaca-kaca karena
sudah tidak kuat menahan tampungan air mata.
“
oh iya Win, hati-hati di jalan.” Jawab Naylah.
Langkah
kaki terus menyusuri lorong sempit yang semakin jauh semakin sempit jika
dilihat dari pintu Aula tempat keramaian. Aku sudah tidak kuat lagi, rasanya
ingin pergi sejauh-jauhnya dan teriak sekencang-kencangnya. Melihat keadaan ku
yang seperti ini ku kira semua Orang
menyebut aku baper, bagaimana tidak baper, aku kira semua orang pasti baper
jika hidupnya sepertiku yang selalu sendiri, disisihkan dan dipandang sebelah
mata.
Hari
semakin malam, aku tertegun merasakan tidak sanggup berdesakan dengan kerumunan
orang-orang penuh hasrat menang, ya hasrat yang baik namun susah untuk diikuti. Aku tereseret dikerumunan orang-orang pintar
dan rasanya sangat sakit. Aku membenarkan status teman facebookku kala itu.
Aku
hanyut dalam lamunan itu, semakin lama mengingat masa lalu hati semakin sakit,
“tring” ponselku berbunyi tanda pesan di grup BBM masuk, lagi dan lagi sampai
ketiga kali Kini ku buka pesan singkat yang masuk ponselku. Ternyata pesan
singkat dari guru seniku, sekaligus motivatorku.
“ Nak, kenalilah
dirimu. Tubuh memang asalnya dari sini, dari tanah entah bagian mana dari bumi
ini, yang kelak engkau akan kuburkan di situ. Namun ruhmu bukan asli dari sini,
ia adalah pengembara yang datang dari alam tanah, yang kelak akan kembali
kesitu. Jangan cintai alam pengembaramu, sehingga menyulitkanmu mengenali jalan
pulang.”
Bergetar
tubuhku, lemas jiwa ku mengingat egoku yang keterlaluan, ingin menang, dan
dikenal banyak orang. Mungkin kala itu aku sedang diselimuti nafsu yang
menggebu-gebu yang menjadikan diri layaknya orang gila, berhasrat tinggi, dan
timbul rasa dengki, benci pada diri sendiri dan orang lain serta putus asa.
Keadaan gila itu hilang begitu saja setelah menelusuri nasihat secara runtut
dari guruku.
Tubuhku
terlentang di kasur yang biasa kujadikan tempat dikala lelah menghampiri. Aku lelah
dengan hasratku yang salah, rasanya ingin menepi dari arus kesalahan itu.
“Winniii.....” temanku memanggil.
“
Minggu depan ada lomba di acara syiar muharam, kamu ikut lomba menulis cerpen
ya, aku dukung kamu deh.”
“
Ko tiba-tiba saja kamu nyuruh aku ikut lomba?”
“
Tadi aku sempat baca buku harian kamu, dan aku baca cerita kamu yang judulnya
baper di tahun baru islam, dalam cerpen itu kamu mampu memainkan emosiku Win, aku
yakin orang lain pun akan sepertiku saat baca cerpen kamu. Aku yakin cerpen mu
yang ini akan menang jika diikut lombakan.” Ujar temanku menjelaskan.
Esok
harinya aku memberanikan diri mengikuti acara lomba itu, dan pada akhirnya keberuntungan
menghampiriku. Sungguh luar biasa tahun baru islam ini, menjadikanku menjumpai
jati diri dan kesadaran diri yang hakiki.
jangan baper baper el hihihi
BalasHapusHaha menginspirasi lah
BalasHapusJangan lupa mampir ke http://gaim02.blogspot.com
nice cerpen (y)
BalasHapussering sering yaaa pos nya :D
BalasHapusMakasih kaka infonya, i like it
BalasHapusMasyaallah bermanfaat sekali (y)
BalasHapusterimakasih kaka informasinya sangat bermanfaat
BalasHapusSubahanallah
BalasHapusGood memotivasi
BalasHapusSangat bermanfaat sekali kaka
BalasHapusSubhanallah bermanfaat buat hdp
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusCieeee kiww
BalasHapusOkey good
BalasHapusmantaaaaap
BalasHapusWaw waw waw hihi :-)
BalasHapusSangat bermanfaat kakak.. Terus lanjutkan
BalasHapusIts good
BalasHapusBagus sekali makalah,y
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusbermanfaat sekali :)
BalasHapusgood. bermanfaat syekaliiii
BalasHapusSangat bermanfaat teteh terimakasih
BalasHapusMantap jiwaaaaa
BalasHapusBermanfaat bgt, makasih yaa
BalasHapus